ilustrasi


Bukan Guru Gaptek
opini | Kamis | 11 Juni 2020 | 19:08:16
Redaktur : wisly | Penulis : Dessy Satria SPd

Di tengah pandemic Covid-19 Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk tetap menyelenggaranya pendidikan bagi anak-anak usia sekolah dengan metode daring. Munculnya pembelajaran daring memang menyenangkan dan merupakan hal yang baru bagi sebagian siswa yang ada di Indonesia khususnya bagi kabupaten Bengkalis.

Pendidikan di tengah pandemic Covid-19 ini merupakan hal baru bagi pengajar dan pendidik di Indonesia khususnya guru. Seperti yang diketahui bersama, guru adalah tonggak keberhasilan suatu pendidikan. Guru merupakan penggerak apapun itu jenis metode pendidikan yang digunakan, baik itu dalam pendidikan luring (luar jaringan) maupun daring (dalam jaringan). Jadi peran guru tidak dapat dilupakan dan ditiadakan walau apa pun yang terjadi di dunia ini.

Percepatan pendidikan dengan menggunakan media daring ini sangat dirasakan. Sebagian masyarakat mengatakan “efek virus corona semua menjadi on-line, begitu juga dengan siswa- siswa, seperti kita diketahui sebelum adanya pandemic corona, bermain handphone android dilarangan tetapi sekarang semua berubah. Semua butuh teknologi untuk bisa melalukan online …online…

Kejutan dunia daring dalam pendidikan bukan hanya mengejutkan para siswa tapi juga para guru. Mengapa demikian? Dari sudut pandang saya tidak banyak guru yang mampu memanfaatkan teknologi dalam pendidikan seperti kutipan dari ”REPUBLIKA.CO.ID, BADUNG - Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Kapustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gogot Suharwoto mengatakan hanya 40 persen guru non teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang siap dengan teknologi.”. 

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya pandemic Covid-19 ini mendorong para pendidik lebih cepat untuk menguasai teknologi. Seperti yang sering kita dengar dengan pribahasa keadaanlah yang bisa berubah kita dengan cepat. 
Oleh sebab itu, mau tidak mau dalam pada masa pandemik ini, guru-guru di tuntut untuk meningkatkan kompetensi di bidang Teknologi Informasi terutama terkait penyampaian materi ajar via daring. Sepertinya guru Indonesia mengalami kemajuan dalam menggunakan pembelajaran daring baik yang dulunya takut-takut untuk mencoba tapi sekarang dengan tuntutan keadaan dan perrubahan zaman hal ini bisa dipercepat.
  
Permasalahan mulai timbul untuk sekolah-sekolah yang berada di kawasan Terluar, Tertinggal dan Terdepan atau di daerah 3T seperti sekolah sekolah yang berada di kabupaten Bengkalis, karena kurangnya infrastruktur jaringan teknologi informasi dan ketersediaan fasilitas daring untuk siswa-siswa. 

Di samping itu kompetensi guru di daerah 3T juga perlu ditingkatkan seseuai dengan pernyataan “Jakarta: Plt. Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gogot Suharwoto mengatakan, saat ini teknologi masih sulit masuk di ruang-ruang kelas untuk pembelajaran. 

Hal ini faktor utamanya adalah masih rendahnya kompetensi guru dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau dengan kata lain gagap teknologi (gaptek)” hal inilah menyebabkan banyak guru yang merasa kwalahan dan takut-takut dalam memanfaatkan teknologi daring. Sehingga peranan dan intervensi pemerintah dalam memberikan pelatihan-pelatihan terkait pembelajaran melalui daring terutama untuk sekolah yang berada di daerah 3T sangat perlu di tingkatkan guna mengejar ketertinggalan.  

Mungkin yang dikatakan Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Kapustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gogot Suharwoto dan pakar pendidikan indoneia dengan segala riset dan penelitiannya akan ada sedikit perubahan hasil dari hasil penelitian dan tanggapan mereka. 

Walaupun begitu saya menyadari perubahan tapi tidaklah semudah membalikkan telapk tangan dan yang pasti percepatan kemampuan guru dari yang tidak tau, takut-takut dalam menggunakan teknologi di dunia pendidikan pasti ada mengalami perubahan yaitu dengan terpaksa atau tidak mereka harus melakukannya. Kenapa? Nah inilah pertanyaan yang gak perlu diperjelas panjang lebar. 

Kami adalah tenaga professional yang harus berjuang untuk memperbaiki negeri ini. Dan tentu kami juga harus memperbaiki diri sendiri melalui belajar. Seperti yang sering kami ucapkan kepada siswa yaitu belajar dari tiang ayunan sampai keliang lahat, belajar sepanjang hayat atau kami akan belajar dari alam yang terbentang dengan istilah dunia pendidikannya yaitu alam takambang menjadi ilmu.

Saya sebagai pendidik sangat merasakan hal ini karna saya dan teman-teman memulai pembalajaran daring dari hal yang paling sederhana yaitu dengan menggunakan pedlet, google form dan quizizz yang kami gunakan untuk bisa terlaksananya pembelajaran daring di sekolah kami khususnya SMPN 3 Bengkallis. 

Inilah kisah seorang guru yang merasakan langsung perubahan metode pembelajaran dari luring menjadi daring khususnya di daerah 3T, dan apa yang kami lakukan semuanya hanya untuk mendidik anak bangsa agar tidak tertinggal dan lebih maju kedepannya, dimasa pandemik corona ini. kami merupakan pejuang garis depan bagi dunia pendidikan. Maju pendidikan maju negeriku.*

Oleh: Dessy Satria  SPd
Guru Bahasa Inggris SMPN 3 Bengkalis


Berita Lain..



50 OTG Positif Corona di Pekanbaru Isolasi Mandiri
pekanbaru | Selasa , 11 Agustus 2020

TelkomGrop Minta Maaf Atas Gangguan Layanan
etalase | Selasa , 11 Agustus 2020